Pesan Yang Tertunda

Ada pesan yang sengaja tidak pernah dikirim, bukan karena tidak ingin sampai, tetapi karena orang yang menulisnya terlalu takut mengetahui apa yang akan terjadi setelah pesan itu dibaca.

Namaku Raka.

Dan pesan itu sudah tersimpan di ponselku selama hampir lima tahun.

Aku menemukannya lagi pada suatu malam ketika sedang membersihkan file-file lama. Sebuah percakapan yang sebenarnya sudah lama kulupakan muncul di antara ratusan pesan yang tidak pernah kubuka lagi.

Nama pengirimnya membuat jariku berhenti.

“Naya.”

Aku menatap layar cukup lama.

Pesan terakhir darinya hanya terdiri dari satu kalimat.

“Kalau suatu hari nanti kita bertemu lagi, semoga kita masih saling mengenal.”

Pesan itu dikirim pukul 23.47, pada tanggal yang bahkan masih kuingat dengan jelas.

Malam sebelum Naya pindah ke kota lain.

Aku seharusnya membalasnya waktu itu.

Tapi aku tidak pernah melakukannya.

Bukan karena tidak peduli.

Justru karena terlalu peduli.

Waktu itu kami sama-sama berusia dua puluh dua tahun. Kami sedang berada di masa ketika semua orang merasa hidup akan berjalan sesuai rencana. Naya mendapat pekerjaan di luar kota. Aku baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan kecil yang bahkan tidak yakin akan bertahan sampai dua tahun.

Kami pernah mengatakan akan tetap berhubungan.

Kenyataannya, hidup punya cara sendiri untuk membuat dua orang yang tadinya begitu dekat menjadi asing.

Pada bulan pertama, kami masih sering bertukar pesan.

Bulan kedua, semakin jarang.

Bulan ketiga, hanya ucapan selamat ulang tahun.

Setelah itu, tidak ada apa-apa.

Aku pernah ingin mencarinya.

Berkali-kali.

Tapi setiap kali membuka halaman media sosialnya, aku selalu mengurungkan niat. Aku takut melihat hidupnya sudah jauh lebih baik tanpa aku.

Aku juga takut mengetahui bahwa selama ini hanya aku yang masih mengingat.

Malam itu, lima tahun setelah pesan terakhirnya, aku akhirnya melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak dulu.

Aku mengetik balasan.

“Aku masih mengenalmu.”

Jempolku berhenti di atas tombol kirim.

Lalu aku tertawa sendiri.

“Gila. Lima tahun terlambat.”

Aku menghapusnya.

Ketik lagi.

“Maaf baru membalas.”

Hapus lagi.

Akhirnya aku menutup percakapan itu dan meletakkan ponsel di meja.

Besok pagi aku harus bekerja.

Hidup sudah berjalan terlalu jauh untuk kembali ke percakapan lima tahun lalu.

Setidaknya begitu pikirku.

***

Seminggu kemudian, aku mendapat tugas ke sebuah kota kecil untuk menghadiri pertemuan dengan klien.

Hujan turun sejak siang.

Setelah urusan pekerjaan selesai, aku memilih berjalan kaki menuju sebuah kedai kopi yang direkomendasikan rekan kerjaku. Katanya, kopi di sana enak dan tempatnya cukup tenang untuk bekerja.

Aku masuk sekitar pukul enam sore.

Tempat itu tidak terlalu ramai. Beberapa orang duduk sendiri dengan laptop di depan mereka.

Aku memilih meja di dekat jendela.

Baru saja membuka laptop, seseorang berdiri di depan meja.

“Maaf, kursi ini kosong?”

Aku mendongak.

Dan untuk beberapa detik, aku lupa bagaimana caranya menjawab.

Naya.

Rambutnya sekarang lebih pendek. Wajahnya terlihat sedikit berbeda. Ada sesuatu yang lebih dewasa dalam tatapannya.

Tapi senyumnya masih sama.

Senyum yang dulu sering kulihat ketika kami pulang bersama setelah kuliah.

“Raka?” tanyanya.

Aku berdiri terlalu cepat sampai hampir menjatuhkan gelas air.

“Naya?”

Dia tertawa kecil.

“Berarti benar kamu.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Lima tahun membayangkan pertemuan ini tidak membuatku siap ketika akhirnya benar-benar terjadi.

Naya menarik kursi dan duduk.

“Kamu masih suka kopi tanpa gula?”

Aku tersenyum.

“Kamu masih ingat?”

“Ada beberapa hal yang susah dilupakan.”

Kalimat itu membuat suasana di antara kami mendadak hening.

Kami berbicara tentang banyak hal setelah itu.

Pekerjaan.

Keluarga.

Kota tempat kami tinggal.

Teman-teman lama yang sudah menikah.

Ternyata Naya sekarang bekerja di sebuah kantor arsitektur di kota itu. Dia baru beberapa bulan kembali setelah sempat tinggal di luar negeri untuk menyelesaikan pekerjaannya.

“Jadi kamu memang tinggal di sini sekarang?” tanyaku.

“Iya.”

“Dan kamu sering ke tempat ini?”

“Lumayan.”

Dia menatapku sambil tersenyum.

“Kamu sendiri kebetulan di sini?”

“Urusan kerja.”

“Berarti cuma sebentar?”

Aku mengangguk.

“Besok pagi pulang.”

Naya terdiam.

Aku juga.

Lalu dia melihat ke luar jendela.

Hujan masih turun.

“Lucu ya,” katanya.

“Apa?”

“Lima tahun tidak ketemu, begitu ketemu cuma punya waktu beberapa jam.”

Aku tertawa kecil.

“Mungkin hidup memang suka bercanda.”

“Atau mungkin kita yang terlalu lama menunggu.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa ada sesuatu yang ingin dia katakan.

Tapi dia tidak mengatakannya.

Begitu juga aku.

Kami menghabiskan waktu sampai kedai hampir tutup.

Sebelum berpisah, Naya bertanya, “Besok kamu pulang jam berapa?”

“Sekitar jam sembilan.”

Dia mengangguk.

“Kalau begitu, sarapan dulu sebelum berangkat.”

“Di mana?”

“Ada tempat dekat sini.”

Aku tersenyum.

“Boleh.”

“Jangan telat.”

“Kamu masih suka ngomel kalau orang telat?”

Naya tertawa.

“Kamu masih suka telat?”

“Kadang.”

“Berarti masih sama.”

Dia berjalan pergi.

Aku berdiri di depan kedai sampai sosoknya menghilang di balik hujan.

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Bukan karena tidak tahu harus berkata apa kepada Naya.

Tapi karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa mungkin masih ada sesuatu yang belum benar-benar selesai.

***

Pagi berikutnya aku datang lebih awal.

Lima belas menit sebelum waktu yang kami sepakati.

Naya sudah menunggu.

“Tumben tidak telat,” katanya.

“Aku belajar.”

Dia tersenyum.

Kami sarapan di sebuah warung kecil yang ternyata masih sama seperti dulu. Naya memesan makanan yang pernah menjadi favorit kami ketika masih kuliah.

Aku memperhatikannya diam-diam.

Ada banyak hal yang berubah.

Tapi ada juga hal-hal kecil yang ternyata tetap sama.

Cara dia meniup teh panas.

Cara dia tertawa sambil menutup mulut.

Cara dia memiringkan kepala ketika mendengarkan orang berbicara.

Setelah sarapan, kami berjalan menuju tempat parkir.

Mobilku sudah menunggu.

Inilah waktunya.

“Naya,” panggilku.

Dia berhenti.

“Hm?”

Aku menarik napas.

“Lima tahun lalu kamu mengirim pesan.”

Senyumnya perlahan menghilang.

“Aku tahu.”

“Kamu masih ingat?”

“Tentu.”

Aku menatapnya.

“Kenapa waktu itu kamu menulis seperti itu?”

Naya tidak langsung menjawab.

Dia melihat ke arah jalan, lalu kembali menatapku.

“Karena aku tahu kita mungkin tidak akan bertemu lagi.”

“Aku sebenarnya ingin membalas.”

“Tapi kamu tidak membalas.”

“Aku takut.”

Dia tersenyum tipis.

“Aku juga.”

Aku mengeluarkan ponsel dari saku.

Percakapan lima tahun lalu masih terbuka.

Aku menunjukkan pesannya.

“Aku baru membalasnya seminggu lalu.”

Naya melihat layar ponselku.

“Apa?”

Aku menyerahkan ponsel itu kepadanya.

Di sana hanya ada satu kalimat.

“Aku masih mengenalmu.”

Naya membaca kalimat itu beberapa kali.

Lalu tertawa.

“Kamu memang terlambat.”

“Aku tahu.”

“Lima tahun.”

“Iya.”

Dia mengembalikan ponselku.

“Tapi aku senang kamu akhirnya membalas.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Naya tersenyum.

“Karena aku masih menunggu.”

Jantungku terasa berhenti sesaat.

“Menunggu apa?”

“Balasanmu.”

Aku tertawa kecil karena tidak tahu harus melakukan apa lagi.

“Kalau begitu, sekarang aku sudah membalas.”

“Iya.”

“Terus?”

Naya mengangkat bahu.

“Terserah kamu.”

Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin membiarkan rasa takut mengambil keputusan.

“Kalau aku bilang aku ingin kita mulai lagi?”

Naya diam.

Beberapa detik kemudian, dia tersenyum.

“Mulai lagi sebagai apa?”

Aku ikut tersenyum.

“Sebagai dua orang yang sudah tahu rasanya kehilangan.”

Dia menatapku cukup lama.

“Dan kalau kali ini kita terlambat lagi?”

Aku menggeleng.

“Kali ini aku tidak akan menunggu lima tahun.”

Naya tertawa.

“Bagus.”

“Jadi?”

“Jadi apa?”

“Aku boleh menghubungimu nanti?”

Dia mengangguk.

“Boleh.”

“Malam ini?”

“Jangan terlalu cepat.”

“Besok?”

“Boleh.”

Aku tersenyum.

“Jam berapa?”

“Terserah.”

“Kamu masih suka membuat orang bingung.”

“Kamu masih suka terlalu banyak bertanya.”

Kami tertawa bersama.

Setelah itu aku masuk ke mobil dan bersiap pergi.

Sebelum menutup pintu, aku melihat Naya sekali lagi.

Lima tahun lalu, kami berpisah karena sama-sama takut dengan masa depan.

Lima tahun kemudian, kami dipertemukan kembali oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Sebuah pesan yang terlambat.

Aku menyalakan mesin.

Beberapa meter kemudian, ponselku berbunyi.

Satu pesan masuk.

Dari Naya.

“Hati-hati di jalan. Jangan menghilang lagi.”

Aku tersenyum.

Kali ini, aku langsung membalas.

“Aku tidak ke mana-mana.”

Dan mungkin, beberapa cerita memang tidak benar-benar berakhir.

Kadang-kadang, mereka hanya berhenti sebentar, menunggu dua orang yang pernah saling kehilangan menemukan keberanian untuk membuka halaman berikutnya.

Komentar